Welcome to Forum Komunikasi Pemuda Peduli Indonesia "LSM FKP2I"

Company Profile
Average User Review There is no review for this company - Write a review Registration Date: Jan. 14, 2009 Last Updated: Jan. 15, 2009 Company Contact Name: Mrs.Busani [Director/CEO/General Manager] E-mail: lsm_fkp2i@yahoo.com Mobile Number: 081346393484 Phone Number: 081803207191 Fax Number: (0328) -------- Address: RT/002/RW/003/dusun Laok - Bates - Dasuk - Sumenep. Office : Jl. KH. Sajad No. 48 Sumenep Jawatimur - Indonesia. PHONE. +6281803207191, +6281346393484 Website : http://forumkomunikasipemudapeduliindonesia.blogspot.com. "FKP2I PEDULI" melalui : Bank BRI: 009501012806500, Attn : Busani Bank BTN ( e' BATARA POS) :10115-01-57-017382-3 Attn : Forum Komunikasi Pemuda Peduli Indonesia

Company Brief

Foto Saya
Sumenep, Jawatimur, Indonesia
Alhamdulillah kami bersyukur- kepada Allah SWT hanya dengan pertolongan-Nyalah akhirnya kami dapat menyelesaikan Website melalui blogspot.com Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM – FKP2I ) Sebelum menuju permasalahan berikutnya saya akan memberi tahu bahwa Company Profil yang kami sajikan adalah sebagai dasar serta pandangan dalam menyibak dan menulusuri Visi& Misi LSM FKP2I. Dalam kesempatan ini Keluarga besar FKP2I mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap orang-orang yang telah menberikan dukungan dalam menyusun naskah ini, dan dengan demikian, Profil ini kami anggap sudah maksimal walaupun isi pokok pada naskah ini kurang sempurna dalam sistematis, namun harapan dari kami semoga dengan adanya Profil yang kami presentasikan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Sabtu, Februari 05, 2011

Pembelajaran Keaksaraan Fungsional

Pembelajaran Keaksaraan Fungsional
Abstract
Badan Pusat Statistik (BPS), melaporkan angka tertinggi buta aksara terdapat di Pulau Jawa dengan urutan Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005 sampai 2007 dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat penurunan buta aksara mencapai 18% dari jumlah 14,58 juta jiwa. Artinya, masih terdapat jumlah penyandang buta aksara di Indonesia. Penyebab tingginya buta aksara di Indonesia adalah kemiskinan dan pengangguran. Oleh sebab itu, dibutuhkan strategi dalam rangka penuntasan buta aksara tersebut. Salah satu strategi yang dimaksud adalah program kegiatan membaca secara inovatif melalui program kegiatan di luar sekolah. Dalam hal ini, pembelajaran Keaksaraan Fungsional sebagai salah satu upaya pendukung rencana strategi penurunan angka buta aksara. Sasaran dari pembelajaran keaksaraan fungsional biasanya masyarakat orang dewasa dengan mayoritas penduduknya berada di daerah pedalaman serta sebagian besar beragama Islam dan sering melakukan kegiatan pengajian. Kegiatan pengajian tersebut, masyarakat sudah dapat mengenal huruf arab dan huruf pe’gon, akan tetapi belum dapat membaca huruf latin. Dari latar belakang dan strategi penuntasan buta aksara yang dimaksud, maka kami berupaya menciptakan sebuah metode baru yang merupakan penggabungan antara metode Keaksaraan Fungsional yang lama yaitu transliterasi (trans) dengan memadukan unsur-unsur kata, eja, hafal, dan otak-atik (keho) yang kemudian disebut dengan Transkeho.
Kata kunci : Transkeho, Keaksaraan Fungsional
PENDAHULUAN
Dunia pendidikan Indonesia tidak pernah lepas dari sejumlah persoalan. Persoalan-persoalan tersebut ada kalanya bersifat monodimensional dan ada kalanya bersifat multidimensional bahkan tak jarang setelah satu masalah
terpecahkan akan muncul masalah baru. Begitu rentannya dunia pendidikan kita terhadap berbagai persoalan, tidaklah berlebihan manakala pada saat ini para ahli dan praktisi pendidikan terus berupaya mengembangkan sistem pendidikan nasional yang adaptable terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat, baik melalui kajian filosofis atau teoretis maupun melakukan penelitian.
Sesungguhnya, pihak pemerintah melalui Depdiknas telah berusaha mengembangkan Sisdiknas dengan mengacu pada empat kebijakan strategis, yaitu pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatan mutu pendidikan di berbagai jenjang dan jenis pendidikan, peningkatan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja, dan efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan pendidikan. Namun, dalam kenyataannya masih ada sejumlah persoalan yang perlu dipecahkan dengan segera, misalnya angka putus sekolah dan buta aksara yang cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005 melaporkan angka tertinggi tingkat buta aksara ada di pulau Jawa dengan urutan yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Anak usia di atas 15 tahun setidaknya ada 14,58 juta orang buta aksara.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sampai akhir 2006, jumlah penyandang buta aksara mencapai 8% atau sekitar 12,8 juta orang (www.kapanlagi.com). Pertengahan 2007, anak usia di atas sepuluh tahun tercatat 12,2 juta orang menyandang buta aksara. Sementara itu, perhatian Dakkar dan Rencana Aksi Nasional Pendidikan Keaksaraan adalah kelompok usia 15-44 tahun yang saat ini jumlahnya sekitar 7,9% juta orang. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mengalami penurunan tingkat buta aksara sekitar 18% (www.setjen.diknas.go.id/portal/index.php).
Penyebab tingginya angka buta aksara di Indonesia adalah kemiskinan dan pengangguran. Kemiskinan telah banyak merenggut hak manusia. Selain itu, kemiskinan membuat orang tua enggan menyekolahkan anaknya karena biaya pendidikan yang mahal. Angka kemiskinan di Indonesia tahun 2005 tercatat sebanyak 35,1 juta jiwa sedangkan penduduk hampir miskin 26,2 juta jiwa. Sementara itu, pada tahun 2007, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 384.000 orang. Pemerintah Indonesia harus mempercepat pengentasan buta aksara hingga 5% dari total penduduk pada tahun 2015. Menurut Arif Rahman (2008) ada lima strategi untuk menurunkan buta aksara di Indonesia yaitu: pertama, pemetaan jumlah penyandang buta aksara secara tepat; kedua, perluasan informasi dan sosialisasi pentingnya melek aksara; ketiga, pemberdayaan sekolah formal dan non formal bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat; keempat, program pendidikan membaca secara inovatif melalui kegiatan di luar sekolah; kelima, menjalin kemitraan dengan UNESCO. Program ini harus dilakukan secara bersamaan, sehingga tujuan mengentaskan kemiskinan tidak hanya sebagai wacana.
Selain itu, pemerintah berupaya meningkatkan pembelajaran keaksaraan fungsional sebagai salah satu upaya pendukung rencana strategi penurunan angka buta aksara. Di dalam pembelajaran keaksaraan fungsional, peranan tutor sangat menunjang kelancaran pembelajaran untuk warga belajar. Pada umumnya sasaran dari program keaksaraan fungsional terdiri dari masyarakat orang dewasa yang belum melek aksara. Selama ini program pembelajaran keaksaraan fungsional tersebut telah berjalan, tetapi hasilnya kurang maksimal. Hal itu terjadi akibat pemilihan metode pembelajaran yang masih konvensional seperti halnya persekolahan. Seharusnya, strategi pembelajaran keaksaraan fungsional adalah pembelajaran orang dewasa. Metode pembelajaran tersebut dijalankan melalui belajar dari pengalaman sendiri (self learning experiences) yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dalam menganalisis dan mengembangkan pengetahuan tentang kehidupan setempat dan sumber daya masyarakat. Sasaran melek aksara biasanya terdapat di daerah pedalaman yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan sering melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan misalnya pengajian. Oleh karena itu, dari kegiatan tersebut mereka sudah dapat membaca tulisan dengan huruf arab dan huruf pegon, tetapi belum dapat membaca huruf latin.
Aspek metode pembelajaran sangat penting mendapat perhatian karena tiga alasan. Pertama, metode pembelajaran merupakan variabel manipulatif, artinya setiap tutor memiliki kebebasan untuk memilih dan menggunakan berbagai metode pengajaran sesuai dengan karakteristik materi pelajarannya. Lagi pula, struktur isi pelajaran merupakan variabel pembelajaran di luar kontrol tutor karena merupakan wewenang pemerintah. Kedua, metode pembelajaran memiliki fungsi sebagai instrumen yang membantu atau memudahkan warga belajar dalam memperoleh sejumlah pengalaman belajar. Materi pembelajaran yang memiliki tingkat kesulitan akan terasa mudah jika tutor mampu meramu dan menyajikan dengan menerapkan metode pembelajaran yang menarik bagi warga belajar. Ketiga, pengembangan metode pembelajaran dalam konteks peningkatan mutu perolehan hasil belajar perlu diupayakan secara terus-menerus dan bersifat komprehensif karena proses pembelajaran merupakan faktor determinan terhadap mutu hasil belajar. Hal ini makin menarik untuk diperhatikan seiring dengan kuatnya tuntutan terhadap mutu pendidikan nonformal.
Berdasarkan pemikiran tersebut penulis berupaya menciptakan metode pembelajaran baru, yaitu Transkeho (transliterasi, kata, eja, hafal, dan otak-atik). Metode pembelajaran ini memiliki perbedaan konsep dengan metode pembelajaran sebelumnya. Oleh karena itu, karya tulis ini diberi judul “Transkeho Sebagai Pembelajaran Keaksaraan Fungsional”.
Berkaitan dengan permasalahan tersebut di atas, maka permasalahannya mengenai bagaimana bentuk dan penerapan metode Transkeho dalam pembelajaran keaksaraan fungsional sehingga menjadi sebuah metode yang efektif dan menyenangkan.
Tujuan yang akan diperoleh yaitu: Mengetahui deskripsi metode Transkeho dalam pembelajaran keaksaraan fungsional. Mengetahui penerapan metode Transkeho terhadap warga belajar keaksaraan fungsional.

0 komentar:

Poskan Komentar

teruslah berjuang... percayalah bahwa disetiap kesulitan itu ada suatu Kemudahan

Sosialisasi Anti Narkoba pada 28 Juli DINSOS Kabupaten Sumenep bekerjasama dengan LSM FKP2I

Sosialisasi Anti Narkoba pada 28 Juli DINSOS Kabupaten Sumenep bekerjasama dengan LSM FKP2I
hal terindah yang dapat kita rasakan adalah saat dimana orang lain percaya kepada kita tentang suatu hal. Dinas sosial kabupaten Sumenep berjasama dengan LSM FKP2I untuk lakukan sosialisasi Narkoba tahun 2010. hal ini tentunya menjadi kabanggan tersendiri karena tidak semua LSM dapat lakukan ini. dan satu-satunya mitra kerja Dinas Sosial dalam kegiatan ini hanyalah LSM FKP2I

Seminar tentang Hukum bagi masyarakat tidak mampu. oleh DPD DPR RI. ( 1 Februari 2010 )

Seminar tentang Hukum bagi masyarakat tidak mampu. oleh DPD DPR RI. ( 1 Februari 2010 )
Bareskrimpolri menyampaikan ide - ide cerdas untuk bangsa pada seminar Hukum bagi masyarakat tidak mampu.

Patrialis Akbar, MENTERI HUKUM DAN HAM RI.

Patrialis Akbar, MENTERI HUKUM DAN HAM RI.
Membangun Politik Penegakan Hukum yang Mengakomodasi Warga tak Mampu dengan Tema : di Gedung Nusantara V MPR/DPR/DPD RI Jakarta. Senin 1 Februari 2010 Formalisasi kebijakan penyelesaian perkara diluar Pengadilan

Matthew Zurtrassen ( Word bank )

JAYA SUPRANA

JAYA SUPRANA
Rekor Muri yang telah diraih Ramadhan Pohan adalah kebangaan bangsa dan kebanggan kami, sebagai Jurnalist handal dan profesional

demo Perangkat desa tentang dana kesejahteraan di gedung DPR RI ( Februari 2010 )

Megawati Soekarno Putri bersama Pramono Hanung dalam Kongres Konverda III

Megawati Soekarno Putri bersama Pramono Hanung dalam Kongres Konverda III
Kehadiran Megawati Soekarno Putri dikabupaten Sumenep pada 7 Maret 2010, disambut baik dan antusiasme masyarakat Sumenep. meski kehadirannya adalah keterkaitan dengan Partai Politik, namun tidaklah mengurangi rasa hormat karena telah bert anjangsana ke Kabupaten Sumenep dengan segala keberandaannya